Tampilkan postingan dengan label artikel bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel bebas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2009

Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Diri

Secara konseptual, dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 kita mendapati rumusan tentang pengembangan diri, sebagai berikut :

Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.


Berdasarkan rumusan di atas dapat diketahui bahwa Pengembangan Diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Dengan sendirinya, pelaksanaan kegiatan pengembangan diri jelas berbeda dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran. Seperti pada umumnya, kegiatan belajar mengajar untuk setiap mata pelajaran dilaksanakan dengan lebih mengutamakan pada kegiatan tatap muka di kelas, sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum (pembelajaran reguler), di bawah tanggung jawab guru yang berkelayakan dan memiliki kompetensi di bidangnya. Walaupun untuk hal ini dimungkinkan dan bahkan sangat disarankan untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran di luar kelas guna memperdalam materi dan kompetensi yang sedang dikaji dari setiap mata pelajaran.

Sedangkan kegiatan pengembangan diri seyogyanya lebih banyak dilakukan di luar jam reguler (jam efektif), melalui berbagai jenis kegiatan pengembangan diri. Salah satunya dapat disalurkan melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan sekolah, di bawah bimbingan pembina ekstra kurikuler terkait, baik pembina dari unsur sekolah maupun luar sekolah. Namun perlu diingat bahwa kegiatan ekstra kurikuler yang lazim diselenggarakan di sekolah, seperti: pramuka, olah raga, kesenian, PMR, kerohanian atau jenis-jenis ekstra kurikuler lainnya yang sudah terorganisir dan melembaga bukanlah satu-satunya kegiatan untuk pengembangan diri.

Di bawah bimbingan guru maupun orang lain yang memiliki kompetensi di bidangnya, kegiatan pengembangan diri dapat pula dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di luar jam efektif yang bersifat temporer, seperti mengadakan diskusi kelompok, permainan kelompok, bimbingan kelompok, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat kelompok. Selain dilakukan melalui kegiatan yang bersifat kelompok, kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan pula melalui kegiatan mandiri, misalnya seorang siswa diberi tugas untuk mengkaji buku, mengunjungi nara sumber atau mengunjungi suatu tempat tertentu untuk kepentingan pembelajaran dan pengembangan diri siswa itu sendiri.

Selain kegiatan di luar kelas, dalam hal-hal tertentu kegiatan pengembangan diri bisa saja dilakukan secara klasikal dalam jam efektif, namun seyogyanya hal ini tidak dijadikan andalan, karena bagaimana pun dalam pendekatan klasikal kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minatnya relatif terbatasi. Hal ini tentu saja akan menjadi kurang relevan dengan tujuan dari pengembangan diri itu sendiri sebagaimana tersurat dalam rumusan tentang pengembangan diri di atas.

Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terjadi pengurangan jumlah jam efektif setiap minggunya, namun dengan adanya pengembangan diri maka sebetulnya aktivitas pembelajaran diri siswa tidaklah berkurang, siswa justru akan lebih disibukkan lagi dengan berbagai kegiatan pengembangan diri yang memang lebih bersifat ekspresif, tanpa “terkerangkeng” di dalam ruangan kelas.

Kegiatan pengembangan diri harus memperhatikan prinsip keragaman individu. Secara psikologis, setiap siswa memiliki kebutuhan, bakat dan minat serta karakateristik lainnya yang beragam. Oleh karena itu, bentuk kegiatan pengembangan diri pun seyogyanya dapat menyediakan beragam pilihan.

Hal yang fundamental dalam dalam kegiatan Pengembangan Diri bahwa pelaksanaan pengembangan diri harus terlebih dahulu diawali dengan upaya untuk mengidentifikasi kebutuhan, bakat dan minat, yang dapat dilakukan melalui teknik tes (tes kecerdasan, tes bakat, tes minat dan sebagainya) maupun non tes (skala sikap, inventori, observasi, studi dokumenter, wawancara dan sebagainya).

Dalam hal ini, peranan bimbingan dan konseling menjadi amat penting, melalui kegiatan aplikasi instrumentasi data dan himpunan data, bimbingan dan konseling seyogyanya dapat menyediakan data yang memadai tentang kebutuhan, bakat, minat serta karakteristik peserta didik lainnya. Data tersebut menjadi bahan dasar untuk penyelenggaraan Pengembangan Diri di sekolah, baik melalui kegiatan yang bersifat temporer, kegiatan ekstra kurikuler, maupun melalui layanan bimbingan dan konseling itu sendiri.

Namun harus diperhatikan pula bahwa kegiatan Pengembangan Diri tidak identik dengan Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling tetap harus ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah dengan keunikan karakteristik pelayanannya.

Terkait dengan penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah kemungkinan besar akan menggunakan konsep baru menggantikan Pola 17 yang selama ini diterapkan. Ke depannya kemungkinan akan digunakan konsep baru yang lebih dikenal sebutan Bimbingan dan Konseling Komprehensif dan Pengembangan (Developmental and Comprehensive Guidance and Counseling), dimana layanan Bimbingan dan Konseling lebih bersifat menyeluruh (guidance for all) dan tidak lagi terfokus pada pendekatan klinis (clinical atau therapeutical approach) akan tetapi lebih mengutamakan pendekatan pengembangan (developmental approach). Dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2005) mengemukakan perbedaan dari kedua pendekatan tersebut adalah :

Pendekatan Pengembangan :

* Bersifat pedagogis
* Melihat potensi klien (siswa)
* Berorientasi pengembangan potensi positif klien (siswa)
* Menggembirakan klien (siswa)
* Dialog konselor menyentuh klien (siswa), klien (siswa) terbuka
* Bersifat humanistik- religius
* Klien (siswa) sebagai subyek memegang peranan, memutuskan tentang dirinya
* Konselor hanya membantu dan memberi alternatif-alternatif

Pendekatan Klinis (Model Lama):

* Bersifat klinis
* Melihat kelemahan klien
* Berorientasi pemecahan masalah klien (siswa)
* Konselor serius
* Klien (siswa) sering tertutup
* Dialog menekan perasaan klien
* Klien sebagai obyek

Dengan demikian, layanan Bimbingan dan Konseling yang memiliki fungsi pengembangan, seperti layanan Pembelajaran, Penempatan dan Bimbingan Kelompok kiranya perlu lebih dikedepankan dan ditingkatkan lagi dari segi frekuensi maupun intensitas pelayanannya.

Dari uraian di atas, tampak bahwa kegiatan pengembangan diri akan mencakup banyak kegiatan sekaligus juga banyak melibatkan orang, oleh karena itu diperlukan pengelolaan dan pengorganisasian tersendiri. Namun secara prinsip, bahwa pengelolaan dan pengorganisasian pengembangan diri betul-betul diarahkan untuk melayani seluruh siswa agar dapat mengembangkan dirinya secara optimal, sesuai bakat, minat, dan kebutuhannya masing-masing dan pengembangan diri menjadi wilayah garapan bersama antara komponen pembelajaran dan komponen Bimbingan dan Konseling di sekolah dengan keunikan tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.


Source :

Offers Review and Software Download Free

Jumat, 13 Maret 2009

OSIS MAN 2 PADANG ????

Selamat kepada para pengurus OSIS yang baru dilantik pada 12 Maret 2009 lalu untuk periode 2009/2010, semoga dapat berjaya dan sukses. Ucapan terima kasih kepada pengurus OSIS sebelumnya atas segala pengorbanan dan perjuangannya demi menjadikan OSIS lebih baik.

Kalau kita berbicara mengenai kepengurusan OSIS khususnya untuk kepengurusan OSIS 5 periode belakangan ini semakin hari semakin mengalami kemerosotan eksistensinya dikancah organisasi sekolah. Ini merupakan pertanyaan besar bagi penulis pribadi khususnya, serta bagi seluruh teman-teman yang aktif dalam organisasi dan para senior yang telah tamat umumnya. Mengapa bisa demikian…??


Penulis melihat, OSIS dibawah kepemimpinan Hidayat Eka Putra masa bakti 2007/2008 yang berhasil membuat berbagai gebrakan baru, seperti adanya pemilihan Akhy wa Ukhty, adanya buletin sekolah, mengaktifkan kembali mading sekolah, dan lain-lain. Hal ini hendaknya dapat memacu generasi berikutnya agar dapat berbuat lebih baik atau seminimal mungkin sama dengan itu.

Tetapi harapan itu belum tampak memuaskan pada kepengurusan selanjutnya. Pada kepengurusan selanjutnya, di bawah kepemimpinan Ulfi fajri, OSIS tidak dapat mengadakan kembali Pemilihan Akhy wa Ukhty. Namun, OSIS masa bakti 2008/2009 ini dapat mengadakan Class Meeting yang pada tahun-tahun sebelumnya vakum, peringatan Hari Guru nasional, adanya Liga Komando, aktifnya kembali ekskul KIR, mengelola blog sekolah dan friendster OSIS serta pembuatan jaket aktivis OSIS. Walaupun banyak program yang sudah dilaksanakan, namun charisma dan kekuatan kepengurusan OSIS masa Hidayat Eka Putra belum mampu disaingi oleh OSIS masa bakti 2008/2009 ini. Stimulus yang diberikan kurang berjalan dengan baik.

Penulis tidak bermaksud meremehkan atau merendahkan pengurus OSIS sebelumnya dan sesudahnya atau membanggakan satu kelompok saja. Penulis dapat mengatakan demikian karena penulis turut serta dalam kepengurusan OSIS dibawah pimpinan Hidayat Eka Putra dan rekan-rekan yang lainnya pada masa itu.

Kembali pada topik utama yaitu OSIS sebagai satu-satunya organisasi tertinggi yang mendapatkan pengakuan secara de facto dan de jure baik di tingkat sekolah dan secara nasional (dalam kepmendikbud nomor 0323/U/1978) sebagai suatu organisasi siswa di sekolah yang legal. OSIS sebagai organisasi tunggal yang telah diakui dan telah mendapatkan legalitas, dapat dikatakan sebagai subyek hukum yaitu sebagai suatu badan hukum yang dapat menuntut dan di tuntut

Tetapi belakangan ini penulis melihat tidak adanya sikap pro aktif dan kritisasi osis sebagai sebuah organisasi terhadap sekolah. OSIS terkesan selalu berada dibawah tekanan / under pressure saja. OSIS bak boneka, penggerak dari segala kegiatan ataupun keputusan pihak sekolah tanpa mempertimbangkan baik buruknya, untung atau ruginya keputusan tersebut dan OSIS terkesan hanya mengurusi urusan mereka saja.

OSIS dan MPK sebagai organisasi yang mewakili rakyatnya (siswa/I MAN 2 Padang ) dapat dikatakan kurang berjalan sebagaimana mestinya.

Penulis berharap agar OSIS dapat pro-aktif dan kritis terhadap segala kebijakan. Penulis tidak bermaksud memprovokasi tetapi mengajak siswa untuk dapat berfikir lebih kritis. Namun, OSIS jangan sampai melanggar norma.

HIDUP OSIS MAN 2 PADANG ..!!

MAJU TERUS….!!



Written by: Muhammad Fajri Andika (alumni MAN 2 Padang 2008)

Mahasiswa Fakultas Hukum UNAND

Senin, 02 Maret 2009

Peranan Pemilih Pemula dalam Pemilu 2009

Generasi muda saat ini mempunyai kesempatan untuk ikut memilih pada pemilu baik itu pemilu legislative maupun pemilihan presiden. Begitu pula bagi para remaja yang punya kesempatan perdana untuk memanfaatkan hak pilihnya pada pemilu tersebut, khususnya pada pemilu pada tahun 2009 ini yang akan diadakan dalam waktu dekat untuk memilih wakil rakyat yang akan menduduki kursi lembaga legislative periode 2009-2014 yang akan datang.

Pada saat ini timbul sebuah pertanyaan khususnya bagi para pemilih pemula yang untuk pertama kalinya akan menggunakan hak suaranya tersebut. Mereka bertanya-tanya bagaimana cara menentukan pilihan yang tepat untuk pemilu tersebut, bagaimana cara mereka menentukan calon tersebut dan alasan mereka(pemilih pemula) memilih calon tersebut.

Apa saja kriteria yang akan digunakan dan bagaimana pertimbangannya? Jangan sampai para pemilih pemula kecewa atau salah memilih wakilnya yang akan duduk di lembaga legislative, sehingga mereka tidak dapat menggunakan hak suara/hak pilihnya dengan sebaik-baiknya. Itu semua jadi catatan penting bagi kita semua.

Jika mereka memilih pemimpin yang kurang tepat, akan berakibat fatal dalam jangka waktu yang cukup panjang. Banyak di antara pemilih pemula bingung untuk menggunakan hak pilih mereka dalam pemilu tersebut yang pada akhirnya akan membuat mereka tidak memilih alias golput.

Pemilih pemula yaitu pemilih yang berusia 17-24 tahun. Para generasi muda tersebut sangat rawan untuk diekploitasi oleh partai politik. Jumlah pemilih pemula dalam pemilu 2009 satu bulan ini mencapai 30% dari 170 juta jumlah penduduk Indonesia. Tapi kenyataanya para pemilih pemula ini terkesan dikesampingkan dalam pemilu. Hal tersebut juga dirasakan oleh Nurul arifin dalam bukunya Abu-abu Pemilu yang dilaunching pada tanggal 18 november 2008 lalu. Apakah para pemilih pemula ini akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya seperti para pemilih pemula pada pemilu 2004?

Mungkin, salah satu pertimbangan yang dapat digunakan untuk persyaratan calon yang akan dipilih menurut penulis di antaranya yaitu yang beragama islam (penulis Beragama Islam), berpendidikan tinggi yang juga tercermin dalam kehidupan para calon, trackrecord mereka di kancah politik dan lain-lain yang bersifat positif. Mungkin itu beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan.


Peran aktif KPU dituntut untuk dapat mensosialisasikan tentang PEMILU dan memberikan pengetahuan tentang parpol-parpol kepada para pemilih pemula sehingga tercapai pemilihan yang demokratis dan objektif. Selain itu, pemilih pemula diharapkan pro aktif dalam mencermati situasi dan dapat menambah pengetahuan mereka terhadap pemilu sehingga mereka sendiri tidak kecewa.

Written By: Muhammad Fajri Andika, alumni MAN 2 Padang
(Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Andalas)

Senin, 23 Februari 2009

PENERAPAN UU BHP DI LINGKUNGAN MADRASAH???

Sejak disahkannya UU BHP tanggal 17 Desember 2008 oleh DPR RI
sampai sekarang telah memicu berbagai aksi penolakan yang
keras. Mulai dari aksi penolakan oleh mahasiswa di Makassar dan di
Jakarta serta di Padang, juga memicu aksi yang sama.
Alasan yang menyebabkan penolakan dari para mahasiswa di
Indonesia adalah adanya praktik komersialisasi dalam UU tersebut
yang jelas-jelas sangat merugikan dunia pendidikan. Kekhawatiran ini
berasal dari Praktik Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT
BHMN) sebagai species BHP yang selama ini terjadi dan bertendensi
memarginalisasi anak-anak tidak mampu untuk mengenyam pendidikan.

Tapi pada saat ini UU BHP juga menjalar ke tingkat sekolah baik itu
yang berada di dibawah DEPDIKNAS atau yang di bawah asuhan DEPAG.
Hal ini terbukti dengan mahalnya biaya pendidikan di tingkat SMA. Hal yang
lebih mengherankan lagi meningkatnya biaya pendidikan juga dirasakan
oleh para pelajar di kota Padang termasuk beberapa Madrasah di kota Padang, yang terbukti dengan mahalnya biaya
pendidikan disana dan dicurigai adanya praktik komersialisasi
pendidikan dalam rangka mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan
mengenyampingkan pertimbangan tingkat penghasilan keluarga pelajar
yang bersekolah di sekolah dan madrasah tersebut.
Di madrasah, siswa dibebani dengan berbagai biaya yang
kurang jelas alokasi dana tersebut. Adapun keputusan yang
dibuat katanya melalui rapat orang tua wali murid.

Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa hal ini bisa terjadi..? Sedangkan UU BHP
itu bukannya hanya diberlakukan untuk Perguruan Tinggi..? Mengapa
tidak ada aksi penolakan? Mengapa orang tua/wali murid siswa/I disana
terkesan dibodoh-bodohi..? Dan mengapa siswa/I nya hanya diam dan tidak
peduli terhadap nasib mereka sendiri? Yang lebih menyedihkan, masih ada
siswa/I yang bersekolah di madrasah tersebut yang mengetahui dengan
jelas bahwa mahalnya biaya pendidikan disana tetapi tetap saja
bermalas-malasan, sibuk berkumpul, tanpa pernah terfikirkan betapa
sulitnya orang tua mereka untuk membiayai biaya pendidikan yang menurut
penulis untuk tingkat Madrasah Aliyah NEGERI.! Bisa mencapai semahal itu.

Written By: E.Utrech

Jumat, 17 Oktober 2008

Bangkit

Bangkit itu darah Palestina yang memuncrat di tembok-tembok bisu rumah,
mempertahankan jiwa dan tanah air mereka.
Bangkit itu derai air mata mereka –rakyat Palestina- yang mengguyur tanah kering yang diinjak-injak Zionis Yahudi laknatullah.
Bangkit itu nyawa Mahasiswa Trisakti yang menggelinjang, ditembak aparat keparat orde baru.

Bangkit itu gatal tangan kotor Israel yang selalu digaruk.
Tangan yang tak pernah menyetuh air.
Tangan yang selalu berlumur merah darah Palestina.
Tangan yang tak tahan melihat Palestina bebas mengepakkan-ngpakkan sayapnya, terbang bebas di angkasa.

Bangkit itu muka tembok Amerika yang tak pernah jera atau malu pada dosa,
menghancurkan mereka yang tak mau tunduk atau patuh pada perintah.
Dalih-dalih “Terorisme,” dalih-dalih “keamanan dunia.”
Setelah semua hancur berserakan, dengan sekenanya mengatakan salah sasaran,
tak sengaja, atau tak lainnya-lah.
Setelah Afganistan lebur, setelah puing-puing menjelma jalanan curam, runcing-runcing reruntuhan.
Muka tembok itu masih saja menacari-cari celah kesalahan dengan isu-isu tanpa landasan.

Bangkit itu angka, bangkit itu harga,
bangkit itu nyawa, harta dan jiwa.
Bangkit itu keringat para pahlawan yang tak henti-hentinya tumpah,
berjuang memerdekakan tanah air Indonesia dari penjajah,
walau berkalang tanah, Cut Tjak Dien yang tak pernah gentar melawan Belanda bersenjata misalanya.
Bayangkan! seorang wanita yang demi kehormatan negrinya, rela berjuang mati-matian.
Keluar hutan bergeriliya bersama sang suami Cut Ditiro, suami kedua.
Setelah suami pertama gugur di tangan kotor Belanda, Teuku Ibrahim Lamnga.

Bangkit itu butuh perjuangan.
Bangkit itu Hasan al-Bana yang terus berupaya mewujudkan tataran Islam di negerinya, Mesir. Bukan kapitalis yang di usung Barat.
Tidak mudah memang untuk melakukan itu, tapi itulah!
Demi kebangkitan, beliau rela. Harta nyawa jadi taruhan.
Beliau syahid ditembak rezim yang merasa tergerogoti eksitensinya, raja Faruk.


Bangkit itu tidak seperti durian mateng yang runtuh berjatuhan dari dahan.
Bangkit itu bukan jengkol tua yang menggelantung di pohon.
Meski tua tak pernah ia mau menyentuh tanah.
Tapi, ia harus diambil, dipanjat.
Barulah ia akan berguguran.

Bangkit itu butuh gerak dan langkah yang besar untuk menggapainya.
Hawa kemerdekaan yang dihirup saat ini, mahal harganya.
Beribu nyawa telah hilang untuknya.
Ini bukti bahwa kebangkitan itu tidak mudah.
Untuk itu sudah selayaknya bagi kita, generasi muda menghargai jarih payah mereka –para Pahlawan-.

Bangkit itu bocah dua puluh satu tahun -Muhamad al-Fatih- yang berhasil menghancurkan kekuatan imperium Romawi.
Kekuatan yang tak terkalahkan pada masanya.
Berbagai kegagalan telah ditemukan untuk membebaskan.
Tapi itulah, seorang Muhammad al-Fatih mampu menerobos pintu regol (gerbang), menginjakkan kaki di tanah kering akan Iman ini, dan shalat didalamnya.

Bangkit itu tidak seperti roda mobil yang menggelinding di aspal jalanan.
Yang bisa melaju semauanya.
itu melewati duri-duri berserak, yang mesti diinjak, jika tidak ingin kepahitan ditemukan.
Jika tidak rela kaki berlumuran darah, tunggulah! Nantilah!
sampai duri itu busuk, lapuk detelan tanah.

Jangan harap kenyataan itu akan sama dengan mimpi yang mengelayut-layut dalam memori. Karena semuanya sudah hancur berserakan.
Yang akan ditemui hanya puing-puing penyesalan yang tak ada harga lagi,
basi, busuk, layu, mati.
Mimpi itu sudah pergi.

Bangkit itu butuh keberanian dan nyali.
Bangkit itu adalah Soekarno yang dengan lantang menolak imperialisme barat dengan pernyataan tegasnya, “Go to hell with your aid!” Ia tak pernah gentar.
dia memang punya nyali, karena memang dia pemberani.

Bangkit itu terkadang juga kekejaman.
Tengoklahlah pembantaian kejam yang dilakukan Salibiyyin terhadap 40.000 umat Islam Palestina.
Mereka tega menghabisi mereka –umat Islam Palestina- yang sama sekali tak berdosa.
Tak pandang bulu. Tua-kecil. Laki-laki-wanita.
Semua dienyahkan keperut bumi.

Menyedihkan memang!
Tapi itulah, demi kebangkitan, mereka rela menghilangkan sifat ke-manusiawiannya.

Ya!
Mereka ingin menempati kembali tanah suci yang telah dibebaskan khalifah Umar bin Khatab.
Bangkit? Bisa. Tidak mudah! Butuh perjuangan! Butuh pengorbanan!
Jika ingin bangkit, harus rela semua itu, walau harus menginjak duri yang berserak.

Bangkitlah!

By: Udo Iwan

Rabu, 30 Juli 2008

What is Blog?

Dahulu kala (lho???), si dia ini dikenal dengan sebutan Weblog. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Jorn Barger pada Desember 1997. Jorn Barger menyebut Weblog sebagai kelompok website pribadi yang selalu diupdate secara continue dan berisi link-link ke website lain yang dianggap anggap menarik dan disertai dengan komentar-komentar mereka sendiri.

Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, blog berkembang sesuai dengan keinginan para pembuatnya atau para Blogger. Blog yang awalnya merupakan “diary” seseorang di Internet, yaitu link ke website yang dikunjungi dan dianggap menarik, kemudian menjadi jauh lebih menarik daripada sebuah daftar link. Hal ini disebabkan karena para Blogger biasanya juga tidak lupa menyematkan komentar-komentar “cerdas” mereka, pendapat-pendapat pribadi dan menunjukkan kreativitas mereka dengan blog yang mereka buat.

Bisa dibilang, blog merupakan cerminan si pemilik blog. Melalui blog, kita bisa dengan mudah mengenal kepribadian seorang Blogger. Mulai dari hal apa saja yang diminati atau disukai si blogger, bagaimana pandangannya terhadap suatu masalah, bagaimana komunitas yang dia masuki, apakah dia suka menulis atau tidak dan apakah si blogger cukup kreatif untuk mempercantik blognya. Semua itu biasanya tergambar jelas dari Blog-nya.

Seorang kolumnis San Francisco Gate, Roger Yim dalam artikelnya pada Februari 2001, menuliskan bahwa sebuah Blog adalah persilangan antara diary seseorang dan daftar link di Internet. Scott Rosenberg dalam kolomnya di majalah online Salon pada May 1999 menyimpulkan bahwa Blog berada pada batasan website yang lebih bernyawa daripada sekedar kumpulan link tapi kurang instrospektif dari sekedar sebuah diary yang disimpan di internet.

Sekarang, blog tidak lagi memuat link-link tapi hanya berupa tulisan tentang apa yang seorang Blogger pikirkan, rasakan, hingga apa yang dia lakukan sehari-hari. Blog menjadi Diary Online yang berada di Internet. Satu-satunya hal yang membedakan Blog dari Diary biasa adalah bahwa Blog dibuat untuk dibaca orang lain. Para Blogger sengaja mendesain Blog-nya dan isinya untuk dinikmati orang lain. Start from tulisan si pemilik blog, artikel yang di copas dari web lain, musik, video hingga data pribadi si blogger agar pembaca bisa mengenal si pemilik blog tersebut.

Lalu, website itu apa? Pada dasarnya, blog dan website sama saja. Blog adalah webnya seseorang atau suatu komunitas. Bagi blogger pemula (seperti si penulis), blog lebih cocok dan lebih efisien. Selain gratis dan bisa di desain dengan simple sesuka hati, di blog semuanya bisa kita tumpahkan. Website biasanya dimiliki oleh suatu perusahaan, parpol, sekolah, universitas serta lembaga-lembaga social lainnya. Kalau ingin membuat website, mengeluarkan biaya. Ada juga lho penyedia layanan pembuatan website gratis, tapi sepertinya sedikit lebih rumit dibanding blog dan belum banyak juga yang punya website gratis.

So, banyak sekali manfaat yang didapat dari blogging. Bisa nambah teman dibelahan dunia manapun, sharing dan bertukar pendapat dengan orang lain, nambah ilmu dan pengalaman alias g gaptek de el el. Ujung-ujungnya depends on bloggernya sih, blognya untuk kebaikan atau sebaliknya. Sekarang, dengan blog yang awalnya gratisan tadi malah bisa mendatangkan uang. Lho gimana tuh??? Caranya, dengan memasang iklan di blog kita. Sebatas itukah? No! kita harus memastikan bahwa pengunjung blog kita banyak. Sebelum itu, kita harus membuat blog semenarik mungkin, berisikan hal-hal yang bermanfaat untuk orang lain dan agar iklan tersebut bisa ‘duduk manis’ dib log kita, ya harus mendaftar dulu dong sama yang punya iklan. Kalau tertarik, tanya Om Google aja ya…

Banyak penulis terkenal yang malah blogger, g pakai website. Tapi, kalau memang untuk tujuan komersil, memasang iklan dan penyediaan layanan2 lainnya, ya pakai website. Contoh: kickandy.com, BMG.go.id, esqway165.com
Beberapa contoh blognya famous people: Blognya Andrea Hirata di sini, Helvy Tiana Rosa di sini, Asma Nadia disini, si penulis cilik Abdurrahman Faiz di sini. Kalau mau belajar lebih banyak lagi, silahkan klik kolom tutorial ini (sangat membantu proses belajar buat blog), tutorial blog ini, panduan wordpress ini, dan juga panduan multiply di sini.

Beberapa istilah yang terkait dengan blog :

1. Blog = singkatan dari weblog.

2. Blogger = orang yang memiliki blog

3. Blogging = aktivitas seorang blogger dalam menulis blognya (nge-blog)

4. Blogroll = daftar link-link ke blog lain, biasanya alamat blog teman, blog yang sering dibaca atau blog yang disukai

5. Blogsphere = komunitas blog.

6. Comments = komentar dari pengunjung blog

7. Permalink = Permanent Link, adalah link kesebuah alamat artikel.

8.Trackback = sebuah sistem yang menginformasikan jika ada blog lain yang memberikan link terhadap blog anda.

9. Web Feeds (feed) = sebuah layanan, dimana isi blog anda dapat di tampilkan pada blog yang lain, begitu juga sebaliknya.

10. RSS, RDF, Atom = aplikasi yang berfungsi untuk membaca web feed.

Bagi calon blogger (cie..), silahkan pilih antara penyedia layanan blog gratis berikut: multiply.com, blogger.com atau wordpress.com. Perlu diingat, sebelum sign up atau mendaftar, silahkan pikirkan baik-baik apa nama alamat blog anda. Usahakan nama blognya simple, padat dan jelas. Maksudnya, jangan sampai buat nama alamat blognya seperti nama di friendster yang umumnya berbelit-belit. Lalu, kalau mau serius ngeblogging, harus rajin duduk manis didepan computer and banyak browsing nambah2 ilmu tentang blogging. Bila sudah punya blog, silahkan cari teman blogger lain, bertukar link dan masuklah ke berbagai kominutas untuk para blogger.

Selamat ngeblog

beberapa sumber (salah satu: Enda Nasution, Copywriter dan Pemilik dan Penikmat BlogGO BLOG adalah Blog milik Enda yang di updatenya hampir setiap hari.)
writer: OSIS

Senin, 23 Juni 2008

Kiamatkah?

"Blapetaaar."
Dentuman halilintar menggelegar.
Menggetar.
Menyambar-nyambar.
Membakar.

Angkasa gelap.
Senyap penuh.
Langit muntah.
Terus menghujam.

Angin kencang.
Hembuskan kehancuran.

Bumi mengaduh.
Goncang.
Goyang.
Runtuh.

Laut mual.
Tumpahkan bencana.

Jeritan.
Teriakan.
Mengganti alunan.
Tembang kematian.

Mungkinkah ini siksaan?
Ataukah cobaan?

Hancur benar.
Atas.
Bawah.
Terus menghujam.

Kiamatkah?

...?


Zagazig, 5 syawal 1428 H / 17 Oktober 2007
Rabu, 16.29 WZ


Udo Iwan

Senin, 17 Maret 2008

2008: bukan 100 tahun Kebangkitan Nasional

Salah satu kelebihan Kaum Yahudi dibandingkan umat-umat lainnya
adalah kebanggaan mereka terhadap perjalanan sejarah kaumnya sendiri.

Berabad silam, di tahun 1118 Masehi, tatkala Knights Templar
dibentuk dan memulai penggalian di bawah pondasi kompleks Masjidil
Aqsha dengan keyakinan bahwa The King Solomon Treasure terpendam di
bawah situs bersejarah milik umat Islam, upaya ini dilanjutkan dari
generasi ke generasi sampai dengan detik ini, melewati lebih dari
Sembilan abad, walau apa yang dicari belum pernah ditemukan! Umat
Yahudi adalah umat yang patut diberi acungan jempol soal kebanggaan
mereka terhadap sejarahnya.

Bagaimana dengan umat Islam? Di sinilah salah satu kelemahan kita
yang paling akut. Umat Islam memorinya sangat singkat dan sangat
mudah terhapus sehingga kejadian yang baru saja berselang tak lama
kemudian begitu cepat terlupakan. Dan parahnya, penyakit lupa
sejarah ini tidak saja menghinggapi tingkat akar rumput, namun juga
diderita oleh para pemimpinnya atau orang-orang yang mengaku sebagai
tokoh umat.

Salah satu kasus yang paling baru adalah berita yang mengutip dari
salah seorang tokoh umat Islam bahwa tahun 2008 ini merupakan 100
tahun Kebangkitan Nasional. Hal ini tentu berangkat dari pemahaman
bahwa Kebangkitan Nasional Bangsa Indonesia terjadi pada tahun 1908.
Apalagi jika bukan pendirian organisasi Boedhi Oetomo (BO) pada 20
Mei 1908 yang dimaksud. Kenyataan ini sungguh-sungguh memilukan.

Adakah mereka tahu bahwa BO sama sekali tidak pernah mencita-citakan
Indonesia merdeka? Adakah mereka paham bahwa BO tidak berdiri di
atas paham kebangsaan, melainkan paham chauvinistis sempit di mana
hanya orang Jawa dan Madura yang boleh menjadi anggotanya? Adakah
mereka tahu bahwa BO sama sekali tidak menghargai bahasa Melayu
sebagai bahasa asal dari bahasa Indonesia karena di dalam rapat-
rapat resmi maupun di dalam anggaran dasar maupun anggaran rumah
tangganya BO mempergunakan bahasa Belanda?

Adakah mereka tahu jika BO mendukung status-quo yang berarti
mendukung penjajahan Belanda atas Bumi Pertiwi ini? Adakah mereka
tahu jika para tokoh BO merupakan tokoh-tokoh Freemasonry bentukan
Belanda yang gemar mengadakan ritual memanggil setan di loji-loji
mereka?

Jelas, tanggal pendirian BO sama sekali sangat tidak pantas dan
tidak berhak dijadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional! Karena BO
memang tidak pernah mencita-citakan itu. Dijadikannya berdirinya BO
sebagai momentum Hari Kebangkitan Nasional merupakan salah satu
warisan rezim terdahulu yang wajib direformasi dan dihapus dari buku-
buku sejarah Indonesia. Seorang pemimpin harus berani mengatakan
putih itu putih dan hitam itu hitam. Jika tidak berani, maka namanya
bukanlah pemimpin melainkan `Pak Turut'.

Kebangkitan Nasional Sesungguhnya

Sebenarnya sudah teramat banyak artikel yang mengupas tentang hal
ini. Hanya mereka yang malas membacalah yang tidak mengetahui bahwa
berdirinya Syarikat Dagang Islam (SDI) tiga tahun sebelum BO, jadi
di tahun 1905, yang patut dijadikan Hari kebangkitan Nasional.
Karena SDI yang kemudian menjelma menjadi Syarikat Islam (SI) adalah
organisasi bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke (bukan hanya
Jawa dan Madura seperti halnya BO) yang pertama kali yang berhasil
menghimpun semua anak bangsa dan mencita-citakan Indonesia merdeka.

Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga SDI dan kemudian SI memakai
bahasa melayu sebagai bahasa asal Bahasa Indonesia. Demikian pula di
dalam rapat-rapat resminya, organisasi ini mempergunakan bahasa
melayu dan diharamkan mempergunakan bahasa Belanda karena dianggap
sebagai bahasa kaum penjajah.

Bagi yang belum pernah mendengar hal ini (kasihan sekali) silakan
cari sendiri di berbagai situs yang telah memuat banyak artikel
tentang hal tersebut. Sejumlah buku-buku pun sudah memaparkan hal
ini.

Jangan Lestarikan Yang Salah

Salah satu amanah reformasi adalah pelurusan dan pemurnian sejarah.
Dan tokoh-tokoh yang kini berada di lingkaran elit kekuasaan
harusnya memenuhi amanah ini. Apalagi Kebangkitan Nasional yang
sesungguhnya itu, di tahun 1905, adalah juga kebangkitan organisasi
Islam pertama di Nusantara. Umat Islam wajib membanggakan hal itu
dan berjuang sekuat tenaga agar seluruh bangsa Indonesia
mengetahuinya.

Adalah sangat memilukan jika umat Islam sendiri, apatah lagi tokoh-
tokohnya, mengabaikan hal itu dan meneruskan kebohongan sejarah yang
mendiskreditkan sejarah Islam Nusantara sendiri kepada generasi
penerus bangsa ini. Janganlah mewariskan sesuatu yang salah.
Katakanlah yang benar, walau kebenaran itu belum tentu manis rasanya.


sumber: www.eramuslim.com

Oleh aisyah_suci.amalia@yahoo.co.id via groups.yahoo.com/group/manduapadang

Sabtu, 15 Maret 2008

article : hi girls.............

Saatnya Anak Puteri Bangkit!
Jangan salah euy kalo anak puteri cuma bisa diandalkan dalam urusan
sumur dan dapur doang. Nggak lha yauw. Anak puteri juga bisa tampil
dalam kegiatan masyarakat lainnya. Bahkan lebih keren lagi, anak
puteri juga bisa terlibat dalam upaya untuk kebangkitan Islam dan
kaum muslimin. Bener lho. Nggak percaya? Silakan dicoba!
Sayangnya, anak puteri sekarang pada cuek bebek sih kalo disuruh
merhatiin kondisi kehidupan. Diajak ngomongin pasar bebas, eh malah
nyambungnya ke belanja di mal. Diminta menjelaskan ada apa di balik
invasi AS ke Irak, yang muncul malah berbusa-busa menerangkan tokoh
idolanya dari Amrik; Justin Timberlake, Britney Spears, Christina
Aguilera, Shakira, Eminem dan gerombolannya.
Eh, pas ditanya kenapa Australia ikut-ikutan dengan Amrik menggebuk
Irak, yang keluar justru nama-nama personel band beraliran seattle
sound asal Australia, Silverchair. Dengan lancarnya si akhwat ini
menyebutkan Daniel Johns, Ben Gillies, dan Chris Joannou. Itu lho,
yang punya album, ?Diorama?. Cilaka euy! ?
Memang sebagian besar remaja puteri adalah pelanggan setia berita-
berita gosip para seleb yang dirangkum dalam infotainment. Bahkan
anak puteri lah yang paling rajin mengoleksi beragam asksesoris yang
berhubungan erat dengan para seleb penghias media massa dan
elektronik.
Meski demikian, untungnya masih ada juga yang mau bersusah payah
menyadarkan kaum Hawa ini. Buktinya, belakangan ini, bahkan bulan
ini sering dianggap sebagai momentum untuk menyadarkan kaum
perempuan. Itu sebabnya, sering banget orang-orang ngomongin soal
pemberdayaan perempuan. Ada yang menganggap bahwa perempuan sekarang
kudu tampil di sektor publik, kudu menjadi bagian dari pelaksanaan
program pemerintah, ikut serta dalam mengelola pemerintahan dan
sektor umum lainnya. Pendek kata, perempuan juga kudu berdaya di
tengah keterbatasan fisiknya. Paling nggak kesan itulah yang
akhirnya muncul.
Sobat muda muslim, khususnya yang puteri, kamu juga bisa terlibat
dan melibatkan diri dalam upaya kebangkitan Islam dan umatnya ini.
Ya, sebatas yang kamu sanggup sebagai remaja Islam. Minimal banget,
kamu perlu paham dulu tentang kondisi masyarakat yang bakal kita
sama-sama ubah. Sebab, lucu banget kan kalo kita tereak-tereak untuk
mengadakan perubahan terhadap masyarakat yang rusak, tapi kita
sendiri nggak ngeh dengan kondisi masyarakat, apalagi kalo kudu
bicara solusinya.Lebeng! Aneh bin ajaib atuh namanya. ?
Itu artinya, sebagai anak puteri kamu juga perlu dan bahkan wajib
juga memiliki kesadaran politik supaya bisa nyetel dengan kondisi
masyarakat yang ada sekarang. Itu sebabnya, meski peran kamu di
jalur umum dibatasi, bukan berarti sempit juga peluang untuk
mengasah kesadaran politik kamu. Waduh, mungkin di antara kamu ada
yang protes bahwa sedikit-sedikit kok menyangkut politik. Sebentar-
sebentar ngomongin politik, apa nggak ada pembahsan lain?
He..he..he.. jangan nepsong gitu ah. Kalem aja Mbak. Nanti juga bisa
nebak sendiri maksud di balik itu.
Yang bisa kamu lakukan
Sobat muda muslim, kaum girls juga kudu trengginas dalam bergerak.
Nggak boleh kalah sama anak laki. Anak puteri juga punya kesempatan
yang sama dengan anak laki dalam berjuang untuk menegakkan kemuliaan
Islam dan kaum muslimin.
Memang sih, keterlibatan kamu dalam perjuangan tersebut kudu
disesuaikan juga dengan kemampuan kamu. Nah, sekarang kita bicara
potensi yang kamu miliki.
Kalo dirunut, secara umum remaja puteri itu memiliki beberapa
potensi, di antaranya; waktu luang, faktor usia, dan tingkat
keilmuan. Khusus untuk usia, erat hubungannya dengan kondisi fisik
dan kemampuan daya pikir. Maklumlah, anak muda kan masih ?greng?
untuk diajak ?sprint?. He..he..he..
Apa yang bisa dilakukan remaja puteri dalam kebangkitan Islam dan
kaum muslimin ini? Sama seperti anak laki, mengubah kondisi
masyarakat yang masih jahiliyah ini menjadi masyarakat yang islami.
Dan yakinlah, bahwa cuma Islam yang bisa membawa rahmat bagi seluruh
umat manusia.
Bener, manusia mana sih yang nggak sukses bersama Islam? Islam,
ketika pertama kali disampaikan oleh Rasulullah saw. telah begitu
memikat hati siapa saja yang mau menerima kebenaran. Masyarakat
Quraisy yang terkenal ?garang? pun luluh hatinya saat Islam mulai
memancarkan cahayanya di Makkah. Satu persatu pemuda-pemudi Quraisy
tertarik masuk Islam. Pemikiran-pemikiran yang dibawa Islam telah
menyulap kebodohon menjadi kecerdasan. Masyarakat Quraisy yang biasa
menyembah berhala pun, dibuat tak berkutik ketika diajukan
pertanyaan, ?Apakah ini yang kalian sembah, padahal ia tidak mampu
mengusir seekor lalat pun yang hinggap di tubuhnya?? Perang
pemikiran terus berlangsung, hingga akhirnya Islam berkembang pesat
dan menjadi peradaban paling maju di dunia.
Fakta sejarah membuktikan, bagaimana Rasulullah saw. berhasil
menegakkan sebuah peradaban yang khas yang penuh rahmat di atas
landasan tauhid di Jazirah Arab yang kemudian menyebar ke seluruh
penjuru dunia. Saking digdayanya Islam, sampe-sampe, orientalis
terkemuka L. Stoddard, memberikan pujian dalam bukunya The New Wolrd
of Islam. Katanya, ?bangkitnya Islam adalah satu peristiwa yang
paling menakjubkan dalam sejarah manusia. Dalam tempo kurang dari
seabad, dari gurun tandus dan suku bangsa terbelakang, Islam telah
tersebar hampir menggenangi separuh dunia. Menghancurkan kerajaan-
kerajaan besar, memusnahkan beberapa agama besar yang telah dianut
berbilang zaman dan abad.?
Tuh, orientalis aja bikin pujian sama Islam, kenapa kita malah nggak
ngeh tentang Islam, bahkan sebagian di antara teman remaja malah
mencoba meredupkan cahaya agama Allah ini dengan aktivitas yang
bertentangan dengan syariat Islam. Aduh, jangan sampe deh kita
menjadi mesin penghancur Islam.
Nah, pertanyaannya sekarang, kenapa Islam bisa menjadi besar dan
berkembang pesat? Jawabannya adalah, karena Islam disampaikan dengan
dakwah dan jihad. Tanpa itu, mustahil kita bisa mengetahui bab demi
bab dalam kitab fikih yang membahas dari mulai masalah bersuci
sampai tentang pemerintahan Islam. Siapa tahu kita yang tinggal di
negeri ini nggak mengenal Islam seperti sekarang, jika saja dulu
Rasulullah dan para sahabat, juga kaum muslimin setelahnya tidak
berdakwah menyampaikan Islam. Nggak kebayang deh!
Itu sebabnya, potensi yang kamu miliki berupa waktu luang, karena
rata-rata dari kamu memang belum disibukkan dengan ngurus anak,
suami dan segala macam masalah keluarga. Jadi masih free untuk
terjun dalam dakwah. Masih bisa konsentrasi. Begitupula dengan
kondisi fisik dan keilmuan, keduanya bisa menjadi pendukung dalam
menyampaikan (mendakwahkan) Islam.
Nah, masalahnya sekarang, berjuang dalam dakwah ini perlu memahami
kondisi masyarakat dan berbagai peristiwa yang berkembang. Itu
sebabnya, di sinilah perlunya pemahaman kesadaran politik yang
benar. Biar dakwahnya nggak asal aja. Tul nggak?
Langkah praktisnya?
Emang sih, upaya untuk mewujudkan kebangkitan Islam ini bukanlah
tugas orang or golongan tertentu aja. Tapi semua orang yang merasa
dirinya muslim punya tanggung jawab dakwah untuk kebangkitan Islam
ini, termasuk tentunya teman-teman remaja puteri. Sebab kewajiban
melaksanakan ajaran agama adalah bagi orang-orang yang sudah
mukallaf alias terbebani hukum. Siapa saja mereka? Orang yang baligh
alias bukan anak-anak lagi dan yang berakal. Oya, remaja kan bukan
anak-anak lagi, iya nggak? Jadi udah mukallaf dong.
Teman, kita kudu memahami bahwa dakwah adalah beban yang kudu kita
pikul bersama. Jangan pernah ada kata menyerah atawa malas untuk
melakukan aktivitas mulia ini. Malah aktivitas ini harus kita pahami
sebagai ujud kasih sayang kita terhadap saudara yang lain.
Sobat muda muslim, untuk mewujudkan kebangkitan yang kita cita-
citakan memang butuh keseriusan dari kita semua, kaum muslimin.
Meski kita masih remaja, bukan berarti nggak boleh serius. Justru
seharusnya, masa remaja kita gunakan untuk mengasah diri supaya bisa
mempertajam kemampuan berpikir kita. Lebih khusus lagi kemampuan
untuk berpikir islami. Ada beberapa tahap yang bisa kita jadikan
sebagai jalan untuk meniti kebangkitan yang hakiki. Dalam kitab an-
Nahdhah (hlm. 132-155), karya Ustadz Hafidz Shalih, dijelaskan sbb.:
Pertama, setiap muslim kudu menyadari tugasnya sebagai pengemban
dakwah. Allah Swt. berfirman:? ?Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik.? [TQS an-Nahl [16]: 125]
Kedua, setiap muslim harus memahami Islam sebagai sebuah mabda,
alias ideologi. Dengan begitu, kita bisa menjadikan Islam sebagai
pedoman hidup kita. Islam bukan hanya mengatur urusan sholat, zakat,
puasa aja, tapi sekaligus mengurusi masalah ekonomi, politik,
pendidikan, hukum, peradilan, pemerintahan, dsb. Ketiga, kita kudu
berjuang menegakkan Islam. Keempat, melakukan kontak pemikiran
dengan masyarakat, nggak cuma diem doang. Sebarkan ide-ide Islam
kepada mereka. Kalo ternyata timbul pro dan kontra, itu wajar.
Rasulullah saw. saja pernah merasakannya. Tenang. Kita di jalur yang
benar. Kelima, harus jelas dalam berjuang. Artinya, kita kudu fokus
dan membatasi mana yang pokok, dan mana yang cabang. Allah swt
berfirman:? ?Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-
orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah
yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang
musyrik". [TQS Yusuf [12]: 108]
Keenam, harus berani melakukan shiraul fikriy (pertarungan
pemikiran) dengan berbagai ide sesat yang ada di masyarakat.
Misalnya, sampaikan bahwa demokrasi sesat, nasionalisme itu tercela,
sekularisme adalah bagian dari kekufuran dan sebagainya. Itu
sebabnya, perjuangan Boedi Oetomo yang katanya sebagai tonggak
kebangkitan, ternyata malah menuju kemunduran. Kenapa? Karena
menyerukan nasionalisme. Nah, remaja puteri Islam, harus berani
melawan itu semua! Allahu Akbar!
Ketujuh, selalu meng-update perkembangan yang terjadi di masyarakat.
Dan berikan solusinya dengan ajaran Islam. Kedelapan, kita harus
bisa menunjukkan kelemahan dan kepalsuan sistem kufur yang tengah
mengatur kehidupan masyarakat kita saat ini. Supaya mereka juga
ngeh, bahwa selama ini ternyata hidup dalam lingkungan yang tidak
islami. Itu sebabnya kita juga mengajak kaum muslimin untuk berjuang
melanjutkan kehidupan Islam.
Oya, semua itu nggak mungkin dong, kalo dilakukan seorang diri, tapi
mutlak berjamaah. Lha wong main bola aja nggak bisa sendirian kan,
tapi perlu kesebelasan. Inilah yang disebut kekompakan dan
kebersamaan.
Sobat puteri, mau bangkit dan berjuang kan? Apalagi untuk kemuliaan
Islam dan kaum muslimin. Pahalanya besar, lho. Jadi, buruan sadar,
pelajari Islam, dan ayo bangkit! ?


sumber : dudung.net

Oleh: aisyah_suci.amalia@yahoo.co.id via groups.yahoo.com/group/manduapadang

Senin, 10 Maret 2008

Ikuti layanan ini!!!

Ketik REG(spasi)Dosa kirim ke kuburan dan menangkan 3 mobil jenazah
atau 10 tiket jalan-jalan ke neraka. Semakin banyak dosa anda, semakin
banyak kesempatan anda untuk disiksa.

Untuk berhenti, ketik UNREG(spasi)TOBAT kirim ke mesjid terdekat.
Promo ini berlaku sampai makhluk bernama malaikat mencabut nyawa anda.

oleh : aisyah_suci.amalia@yahoo.co.id via http://groups.yahoo.com/group/manduapadang